|
ARAH dan DASAR KOMISI KEPEMUDAAN PROVINSI GEREJAWI PONTIANAK - SAMARINDA 2005 – 2010
Pengantar
Pada tanggal 23-24 Januari 2004 diadakan pertemuan para ketua Komisi Kepemudaan se-Kalimantan (Provinsi Gerejawi Pontianak - Samarinda) bersama dengan Komisi Kepemudaan KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), di Banjar Baru, Keuskupan Banjarmasin. Dalam pertemuan tersebut, selain diadakan tukar-menukar pengalaman dalam mengupayakan karya pastoral bagi orang muda di setiap keuskupan, secara khusus para Ketua Komisi Kepemudaan se-Kalimantan mengadakan kajian yang serius untuk merumuskan Arah dan Dasar Komisi Kepemudaan Provinsi Gerejawi Pontianak - Samarinda. Dengan Arah dan Dasar tersebut dimaksudkan untuk menjawab salah satu keprihatinan mendasar karya pastoral orang muda di Kalimantan, yaitu bahwa karya pastoral ini masih sangat bergantung pada kharisma orang/pelaksana pendamping pastoral orang muda. Sehingga tidak jarang karya pastoral orang muda di Kalimantan “bersifat mana suka” (tergantung selera orang). Ketika terjadi pergantian orang, berganti pula pilihan, fokus dan bentuk gerakannya. Hal tersebut yang disadari menjadi salah satu penghambat yang mendasar berkembangnya karya pastoral orang muda di Kalimantan.
Berbekalkan pengetahuan dan pengalaman mendampingi orang muda di berbagai medan pastoral Kalimantan, para Ketua Komisi Kepemudaan se-Kalimantan, bersama dengan Komisi Kepemudaan KWI, merumuskan Arah dan Dasar ini. Dengan ini diupayakan perlahan-lahan karya pastoral orang muda di Kalimantan pertama-tama bergantung pada sistem pastoral dan keterarahan gerakan yang jelas. Diyakini bersama Arah dan Dasar ini dapat membantu siapapun yang mengupayakan pendampingan pastoral bagi orang muda di Kalimantan.
Selanjutnya, demi merintis pastoral orang muda yang lebih partisipatif/partnership, diadakanlah Workshop Scenario Building dan Strategic Planning di Rumah Retret Bukit Rahmat, Putak, Loa Duri, Keuskupan Agung Samarinda pada hari Minggu-Sabtu, 22-28 Agustus 2004. Workshop tersebut diselenggarakan untuk semakin mempertajam konsep Arah dan Dasar Komkep Provinsi Gerejawi Pontianak – Samarinda melalui analisis scenario building (penggambaran situasi-situasi yang mungkin terjadi di masa depan) dan strategic planning (perencanaan strategis). Workshop tersebut dilibati 5 pastor Ketua Komkep dan 15 pendamping orang muda dari Keuskupan Sintang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agung Samarinda dan Keuskupan Tanjungselor, difasilitasi oleh panitia dari Komkep Keuskupan Agung Samarinda dan 4 fasilitator Komkep KWI. Sejumlah rekomendasi para konstituen workshop diserahkan kepada para Ketua Komkep (sebagai Tim Perumus) untuk mempertajam konsep Arah dan Dasar.
Dalam Arah dan Dasar ini pertama-tama direfleksikan SITUASI DASAR ORANG MUDA Kalimantan. Berangkat dari situasi dasar itu, dicoba untuk merefleksikan hal-hal yang mempengaruhi orang muda Kalimantan sehingga membentuk situasi dasar tersebut. Selanjutnya, berhadapan dengan situasi dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi itu, direfleksikan upaya pengambilan sikap Komisi Kepemudaan Provinsi Gerejawi Pontianak – Samarinda dalam mendampingi orang muda. Pengambilan sikap itu dimulai dengan merumuskan VISI dan MISI pastoral orang muda se-Kalimantan, PRIORITAS DASAR pendampingan, pilihan STRATEGI DASAR dalam melaksanakan misi, TUJUAN UTAMA pendampingan yang sesuai dengan prioritas dasar dan strategi dasar yang dipilih. Situasi Orang Muda
Dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia terjadi perubahan berbagai gaya kehidupan. Salah satu gaya kehidupan yang berkembang adalah gaya hidup instant. Orang cenderung untuk mempermudah kehidupannya ataupun mengupayakan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya. Tingkat kesulitan dalam berbagai dimensi dan strata kehidupan dicoba untuk diminimalkan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi semakin memungkinkan hal itu terjadi.
Sesungguhnya hal itu merupakan hal yang sah dan wajar. Ada ungkapan yang sering kali muncul dalam masyarakat :”kalau dapat dipermudah mengapa harus dipersulit”. Sebuah bentuk penyikapan terhadap realita kehidupan. Tetapi di sisi yang lain, dalam konteks orang muda, perkembangan gaya kehidupan itu menjebak orang muda (yang sering kali tidak pernah disadari) selalu berada dalam situasi atau pengalaman hidup yang biasa memanjakan dan mempermudah hidup mereka. Mereka tidak berhadapan dengan realita kehidupan yang sesungguhnya. Mereka berhadapan realita yang semu. Dari diri mereka sendiri, mereka tidak terbiasa untuk sulit (berhadapan dengan realita kehidupan yang sulit). Padahal senyatanya hidup tidak selalu mudah. Sebagian terbesar realita kehidupan menuntut perjuangan.
Keterjebakan orang muda dalam situasi yang seperti itu mengakibatkan orang muda berada dalam situasi keterasingan dengan realita kehidupannya. Mereka terbiasa, bahkan sangat terbiasa, dengan yang mudah, bukan dengan yang sulit. Di sisi yang lain lagi, keterasingan itu melumpuhkan kemampuan orang muda untuk ambil sikap terhadap perkembangan situasi kehidupan yang terjadi. Cukup besar kecenderungan untuk “ikut saja” dalam perguliran realita kehidupan. Akar Masalah : Tiga Situasi - Kondisi
Situasi yang dialami oleh orang muda itu bukan pertama-tama karena kesalahan orang muda. Orang muda berada dalam situasi yang mengkondisikan mereka. Situasi-kondisi pertama adalah dari sudut sosio-ekonomis, yaitu situasi dimana uang menjadi penentu segala-galanya. Uang sungguh menjelma menjadi “Tuhan yang kedua”. Realita kehidupan dinilai/dihargai dengan besaran uang yang dikeluarkan. Karenanya kehidupan menjadi sangat materialistis. Nilai-nilai kehidupan, termasuk di dalamnya nilai-nilai iman, menjadi sangat terpuruk dan kehilangan pengaruhnya di dalam setiap sendi kehidupan. Orang tidak lagi berpegang pada nilai-nilai itu, tetapi orang bertanya : “berapa uang yang harus dia bayar?”. Dengan demikian menjadi tidak mengherankan ketika korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi sangat jamak terjadi. Uang membelenggu dimana-mana; menjadi dasar, sarana dan tujuan gerakan dalam kehidupan. Kalau toh orang masih berbicara tentang nilai-nilai kehidupan itu, tidak lebih dari sebuah isapan jempol saja.
Situasi-kondisi kedua adalah dari sudut sosio-politis, yaitu situasi dimana komunalisme terjadi dimana-mana. Yang dimaksud dengan komunalisme adalah situasi dimana orang tidak lagi berpikir tentang kepentingan bersama, tetapi orang hanya berpikir tentang kepentingan kelompoknya sendiri. Kepentingan bersama bukan lagi menjadi harapan yang diperjuangkan, tetapi menjadi mimpi yang tak berkesudahan. Terserah orang lain mau mengali situasi seperti apa, yang penting saya dan kelompok saya sejahtera; yang penting saya dan kelompok saya menang; yang penting saya dan kelompok saya bahagia. “Emangnya gue pikirin” menjadi ungkapan yang lazim dipakai untuk merumuskan pilihan sikap itu.
Selanjutnya, situasi-kondisi ketiga adalah dari sudut sosio-budaya, yaitu dimana kekerasan semakin terstruktur. Situasi-kondisi ini merupakan ujung dari situasi-kondisi pertama dan kedua. Rasa hormat pada orang lain dan realita kehidupan yang lain (alam dan lingkungan hidup) sirna. Jika hal itu dirasa menghalangi maka hal itu akan disingkirkan dengan segala cara, bahkan kalau perlu dimusnahkan. Sebaliknya jika hal itu diinginkan maka hal itu akan diupayakan semaksimal mungkin, dengan tingkat ketidakpedulian yang sangat tinggi pada yang lain. Oleh karena itu pembunuhan terhadap sesama manusia, pembabatan hutan maupun pengerukan hasil alam terjadi dengan sangat mudahnya. Tujuan akhirnya menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kekerasan. Kekerasan menjadi pilihan yang dipilih tanpa alternatif, ketika berhadapan dengan siapa atau apa pun
Orang muda, termasuk orang muda Kalimantan, berada dalam alur kehidupan dengan tiga situasi-kondisi yang menekan dan mempengaruhi itu. Secara mendasar sekali hal itu yang mengakibatkan orang muda mengalami keterasingan dari dirinya sendiri, dari Gerejanya, dari masyarakatnya dan puncaknya, dari Tuhannya. Pilihan Sikap – Arah dan Dasar
Berhadapan dengan situasi-situasi itu, dalam pendampingan terhadap orang muda Kalimantan, Komisi Kepemudaan Provinsi Gerejawi Pontianak – Samarinda menentukan:
VISI
Komunitas orang muda Katolik, yang setia pada Yesus Kristus Sang Pembebas, bersama Gereja dan masyarakat mewujudkan Kalimantan baru.
MISI
1. Meningkatkan pendidikan nilai-nilai iman sekaligus nilai-nilai kemasyarakatan OMK dan pendamping. 2. Mengembangkan kesadaran OMK dan pendamping akan pentingnya pewujudan nilai-nilai iman sekaligus nilai-nilai kemasyarakatan. 3. Menggerakkan OMK dan pendamping mewujudkan nilai-nilai iman sekaligus nilai-nilai kemasyarakatan dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketiga Misi di atas tidak terpisah-pisah satu sama lain, urutan prioritas atau pilihan, melainkan tiga upaya yang harus dilaksanakan sekaligus (integral) dalam setiap aktivitas pastoral kepemudaan. PRIORITAS DASAR
Pendampingan orang muda Kalimantan bersama para pendamping.
Yang dimaksud dengan para pendamping dalam rumusan ini adalah : semua pengurus Komisi Kepemudaan Keuskupan, para pastor paroki, seksi kepemudaan paroki dan moderator kelompok-kelompok orang muda.
STRATEGI DASAR
Dalam prioritas dasar itu dipilih strategi dasar : pendampingan berkelanjutan untuk orang muda Kalimantan bersama para pendampingnya dalam pendidikan nilai-nilai iman sekaligus nilai-nilai kemasyarakatan melalui:
A. PENDIDIKAN
1. Kaderisasi (terutama kaderisasi real/dalam kehidupan sehari-hari meskipun bisa didukung kaderisasi formal/dalam kegiatan resmi)
2. Pelatihan (terutama utk peningkatan skill/ketrampilan, meskipun harus diimbangi pengembangan pengetahuan dan spiritualitas) yang lebih menekankan:
a. Pengembangan kualitas OMK dan pendamping
b. Pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship)
c. Pengembangan metode pendampingan partnership
3. Penyemaian nilai-nilai moral Gereja dalam setiap aktivitas kelompok2 OMK (yg sdh ada/yg dibentuk baru).
4. Penyadaran dan pembentukan komitmen OMK thd pentingnya pelestarian alam.
B. PENGEMBANGAN JARINGAN
5. Jaringan Kerja Sama dgn berbagai stakeholders utk memperluas:
a. Akses OMK dlm pendidikan (formal, informal, non-formal)
b. Kesempatan bagi OMK utk terlibat aktif dlm Gereja & masyarakat
c. Dukungan dana dan sarana bagi karya pastoral OMK TUJUAN UTAMA
Lewat prioritas dan strategi dasar itu dicanangkan tujuan utama yang ingin dicapai, yaitu perubahan pola pikir, pola rasa dan pola aksi orang muda Kalimantan bersama dengan para pendamping. Dengan demikian orang muda Kalimantan diharapkan dapat keluar dari situasi keterasingannya dan mampu mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapinya.
Metode yang dipilih untuk mengupayakan prioritas dasar, strategi dasar dan pencapaian tujuan utama itu adalah metode partnership ; dengan tenggang waktu 5 tahun ke depan, sampai dengan tahun 2010. Setiap 2 tahun akan diadakan evaluasi bersama.
Setiap Komisi Kepemudaan Keuskupan mengupayakan penerapan operasional Arah dan Dasar ini di keuskupan masing-masing sesuai dengan karakteristik dan situasi lokal masing-masing keuskupan.
Komisi Kepemudaan Provinsi Gerejawi Pontianak – Samarinda
Comments
 |