Home Artikel Info Kegiatan Asian Youth Day 5, Young Asians: Come Together, Share the Word, Live the Eucharist!
Asian Youth Day 5, Young Asians: Come Together, Share the Word, Live the Eucharist! PDF Print E-mail
Written by Administrator   

ayd 2009Asian Youth Day 5, Young Asians: Come Together,

Share the Word, Live the Eucharist!

Yasia Fiesta! Pada tanggal 23-27 November 2009, sebanyak 1.400 orang muda Katolik dari 22 negara se Asia berkumpul di kompleks sekolah Rogationist College, Silang, Cavite, Keuskupan Imus, the Philippines, untuk berefleksi bersama mengenai arti Sabda Tuhan dan Ekaristi dalam hidup mereka. Delegasi Indonesia yang dikoordinir oleh Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KomKep KWI) berjumlah 12 orang, dari Jakarta 6, Surabaya 2, Yogyakarta 1, Makassar 1, Pangkalpinang 1, Sanggau 1, dan seorang uskup yaitu Mgr Agustinus Agus dari Sintang. Dalam AYD, beberapa mahasiswa Indonesia yang studi di Philipina pun ikut bergabung sehingga jumlah delegasi Indonesia bertambah.  Kebanyakan peserta sekitar seribu dua ratus ialah dari Philippina sendiri.  Theme song dan acara serta hasil selengkapnya suasana AYD 5, bisa dilihat di website resmiwww.asianyouthday2009.com .

 

Perhelatan tiga atau empat tahunan OMK Asia yang kelima ini diadakan di Philippines, dan seperti biasa, didahului acara Days in Diocese (DiD) tanggal 20-23 November. Pada program DiD ini, peserta tinggal di keluarga-keluarga di keuskupan sekitar Imus yakni Manila, Batangas, Antipolo, Lipa, Pasig, San Pablo, Paranaque, Novaliches, Cubao, Kalookan. Mereka mengalami hidup nyata bersama keluarga Katolik Philipina dengan suka duka dan aktivitas di paroki serta di barangay (lingkungan) mereka.

Tema yang direfleksikan ialah Sabda Tuhan dan Ekaristi. Tema yang menjadi dasar adanya Gereja Katolik yang didirikan Kristus sendiri, dan menghidupkan umat dua ribu tahun ini. Renungan difokuskan pada Injil Yohanes bab 6 serta semua tulisan Alkitab mengenai Sabda dan Ekaristi, dan dokumen Gereja. Anehnya, tema ini dikemas dengan sangat apik, jauh dari membosankan. Para peserta enjoy dan gembira.

Bersahabat, Berbagi, Berkorban, Bersyukur

Beberapa kegiatan yang berkesan bagi para peserta antara lain: 1. Tinggal di keluarga miskin; 2. Mengikuti prosesi Sakramen Mahakudus pada HR Kristus Raja di sepanjang kampung; 3. Mengikuti aneka perayaan iman di Barangay (lingkungan); 4. Misa di mana Liturgi Sabda dibuat dengan perhentian-perhentian untuk mendalami Sang Sabda, dan perhentian terakhir ialah Doa Syukur Agung; 5. Ibadat agung adorasi Sakramen Mahakudus disusul tuguran dengan ibadat gaya taize, 6. Pengakuan dosa dan konsultasi gaya cafe-cafe, yang tidak menakutkan namun akrab dan bersahabat; 7. Aneka lokakarya untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan pembinaan orang muda khususnya bagaimana membuat sabda dan ekaristi makin dihayati dalam hidup. 8. Pameran Rohani tiap Negara dalam ruangan. Kami menampilkan sejarah Gereja Indonesia, tokoh-tokoh dan pahlawan iman Indonesia serta warisan budaya. Stand Indonesia diminatio banyak pengunjung sampai akhir.

Seluruh acara mengacu pada misteri ekaristi: Turunnya Roh Kudus atas persembahan roti dan anggur; Diambil; Diberkati; Dipecah-Dibagikan. Tradisi makan bersama gaya Yahudi diubah oleh Yesus menjadi Sakramen kehidupan kekal yaitu diriNya sendiri. Lagipula, tradisi makan bersama ini sangat berbudaya Asia. Yesus sendiri dan seluruh tokoh Kitabn Suci ialah orang Asia asli. Maka, orangt muda peserta AYD 5 dan orang muda Katolik Asia pada umumnya mesti menghayati Ekaristi sebagai warisan Asia dari Yesus Kristus orang Asia.

Bambu dan Nasi

Doa pagi dilalui peserta dengan refleksi yg diungkapkan dengan bambu dan nasi. Bambu ialah tanaman khas Asia. Dalam aula besar yang menampung 1400 orang itu, ditaruh meja sabda dari bambu dan meja ekaristi dari bambu pula. Setiap pagi, doa pagi dimulai dengan perarakan ke meja sabda dengan iringan instrumen bambu khas Asia. Indonesia mempersembahkan angklung sebagai pengiring Sang Sabda. Ada refleksi bagus mengenai nasi yang kita makan setiap hari. Nasi ditaruh dalam belahan bambu, lalu kita semua peserta berbagi makan dari nasi yang satu dan sama. Seluruh Asia dihidupi oleh budaya pertanian. Namun kebanyakan orang muda, tak lagi mau menjadi petani. Mestinya kita ingat bahwa Yesus sangat mempedulikan kehidupan pertanian dalam berbagai perumpamaannya, misalnya benih yang jatuh di tanah, dll. Semua itu mengingatkan OMK akan pentingnya memelihara lingkungan hidup dan pangan kita.

Bambu menjadi tanda kebersamaan sebagai bangsa-bangs rumpun Asia. Setiap upacara liturgi, bambu tampil sebagai simbol pokok. Salib Asian Youth Day pun yang sudah sejak Asian Youth Day 1 di Thailand siguilir ke tiap negara tuan rumah, terbuat dari bambu. Bangsa Asia, sebagaimana Kristus, diharapkan seperti bambu yang ulet, serumpun yang saling bantu, mau terbelah dan dipotong sebagai korban persembahan yang hidup demi keselamatan bersama.

Doa, Aksi, Refleksi

Kesulitan orang muda Asia di zaman teknologi digital ini ialah sulitnya hening untuk berdoa dan refleksi. Latihan-latihan dan kegiatan sepanjang AYD 5 dirancang agar OMK giat bernyanyi, bergerak, namun juga refleksi, hening dalam doa. Suatu paduan yang luar biasa.

Perayaan Ekaristi menjadi puncak perayaan Sabda dan Sakramen. Ekaristi yang sudah berusia 2000 tahun lebih ini, didesain sedemikian rupa sehingga tidak membuat orang muda boring dan kehilangan makna ekaristi itu sendiri, namun juga tidak melanggar kaidah dan maksud liturgi. Salah satu yang menarik ialah ekaristi dengan perhentian-perhentian. Kami semua dikelompokkan dalam 4 sub-regio: Asia Selatan, Asia Tenggara 1, Asia Tenggara 2 (Phillipines, Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Timor Leste); Asia Timur dan Tengah. Masing-masing berjalan menempuh perhentian-perhentian. Perhentian perta bersama-sama, dari lagu pembukaan hingga doa pembukaan. Perhentian kedua dalam kelompok, sejak bacaan I sampai ke dua. Perhentian ketiga dari Alleluya sampai Doa umat. Pada perhentian kedua dan ketiga, semua merenungkan Sabda hari itu dan sharing dalam kelompok berdua-dua seperti ketika perjalanan dua Murid ke Emmaus. Setelah homili, kami semua menuliskan niat pribadi. Kertas dimasukkan ke batang bambu sepanjang satu meter. Kemudian batang-batang bambu itu diarak menuju altar bambu pada perhentian keempat yaitu Doa Syukur Agung.

Pernyataan Akhir

Pada malam terakhir, kami menampilkan kekayaan budaya dan rohani masing-masing. Indonesia menampilkan orkestra angklung sebagai pembuka acara. Semua antusias dan turut bernyanyi. Kami berlatih sejak berkumpul di Jakarta dan di sela-sela kegiatan. Sempat khawatir gagal, namun toh berhasil juga. Kami memberikan kenang-kenangan berupa wayang golek Raja Rama dan Ratu Shinta kepada Uskup Louis Antonio Tagle, uskup keuskupan Imus.

Harapan

Yasia Fiesta! Come together and celebrate! Through us, God’s Living Word will renew and recreate! Yasia Fiesta! Come and sing songs of praise! Through us, the Bread of Life brings a new season of grace!

Semoga refren  theme song AYD 5 tersebut membawa orang muda Katolik mau masuk dalam misteri sabda dan ekaristi, mau berbagi kehidupan dengan sesama, khususnya yg miskin, tanpa kepastian masa depan, dan tersingkir...  AYD 6 akan diselenggarakan di Korea pada tahun 2013. Mabuhay!

Penulis: Yohanes Dwi Harsanto Pr

Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI