Home Pendidikan Politik Pemanfaatan RAP Modul 4 - WAWANCARA MENDALAM
Modul 4 - WAWANCARA MENDALAM PDF Print E-mail
Written by felix   
Tujuan        
Untuk memperoleh infomasi tentang pengalaman, pendapat, perasaan, dan hal-hal subyektif lainnya dari OMK sebagai informan, yang berkaitan dengan pendidikan politik.

Metode
1.    Tanya jawab antara pewawancara dengan informan (terekam/tercatat).
2.    Penulisan rekaman/catatan proses wawancara (transkrip).

Waktu
60-90 menit (tergantung banyaknya informasi yang ingin digali, struktur pertanyaan wawancara, banyaknya informasi yang diberikan informan, dan waktu yang tersedia).

Alat dan bahan
1.    Alat perekam (kaset, tape perekam atau perekam suara digital, batere secukupnya; jika ada).
2.    Kertas dan alat tulis (untuk catatan proses/transkrip diskusi).

Langkah-langkah

Persiapan
1.    Rumuskan tujuan wawancara (informasi apa saja yang ingin diperoleh  melalui wawancara).
2.    Siapkan pertanyaan-pertanyaan panduan wawancara (berdasarkan rumusan tujuan wawancara (nomor 1).

Catatan: Susunlah/urutkan pertanyaan-pertanyaan wawancara dari pertanyaan-pertanyaan pendahuluan, pertanyaan-pertanyaan umum, hingga pertanyaan-pertanyaan khusus.

  • Pertanyaan pendahuluan biasanya berkaitan dengan identitas informan, misalnya: nama lengkap, nama panggilan yang disukai informan, tempat/tanggal lahir, alamat tempat tinggal, kegiatan utama sehari-hari (bersekolah, kuliah, bekerja, dsb.), tempat pendidikan/pekerjaan, latar belakang keluarga, dsb.
  • Pertanyaan umum biasanya sudah berkaitan dengan tujuan wawancara, tapi masih seputar hal-hal umum. Dalam konteks penggalian informasi untuk mempersiapkan pendidikan politik, pertanyaan umum misalnya seputar pengalaman/kegiatan informan dalam bidang politik (berpartisipasi dalam pemilihan ketua RT/RW, pemilihan ketua kelas/senat mahasiswa, pemilihan lurah jika informan merupakan penduduk desa, pemilihan kepala daerah/pilkada, pemilu, dsb.), kesan atas partisipasi politik tersebut, persepsi informan tentang politik/partisipasi politik, dsb.
  • Pertanyaan khusus biasanya bersifat menggali lebih dalam jawaban-jawaban informan atas pertanyaan umum (probing). Pertanyaan khusus bisa disiapkan terlebih dahulu sejauh pewawancara mampu menduga/mempunyai gambaran awal bagaimana informan akan menjawab pertanyaan umum. Tapi, sering terjadi juga, pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan khusus pada saat informan menjawab pertanyaan umum tertentu, seketika/tanpa mempersiapkan pertanyaan khusus tersebut. Misalnya: jika informan menyatakan pernah mengikuti pilkada, pewawancara bisa mengajukan pertanyaan khusus: dalam lingkup apa (kabupaten/kota/provinsi), kapan dan di mana melakukan pemilihan, bagaimana pengalaman saat memilih, pertimbangan apa saja yang mendasari pilihan, mengapa memikirkan pertimbangan-pertimbangan tersebut sebelum memilih, dsb. Pertanyaan khusus bisa pula bersifat konfrontasi atas jawaban informan. Artinya pewawancara dengan sengaja menanyakan pendapat/sikap informan menghadapi situasi yang berlawanan/bertentangan dengan pendapat/sikapnya dalam jawaban sebelumnya (misalnya: “Mengapa tidak memilih….?” atau “Jika ternyata situasinya tidak seperti itu, bagaimana sikap Anda?”)

 


3.    Pilihlah informan untuk diwawancarai (kriteria informan harus sesuai dengan tujuan wawancara, informan dipilih di antara individu-individu yang diasumsikan atau sudah bisa dipastikan memiliki informasi yang ingin diperoleh).
4.    Hubungilah calon informan, jelaskan tujuan wawancara, mintalah kesediaannya untuk diwawancarai, dan buatlah kesepakatan tentang waktu dan tempat wawancara.

Catatan: Usahakan menyepakati tempat dan waktu wawancara yang kondusif, misalnya jauh dari keramaian (untuk memperjelas perekaman) dan di saat yang leluasa (tidak terganggu kegiatan lain yang harus segera dikerjakan).


Pelaksanaan
5.    Ucapkan salam dan terima kasih kepada informan atas kesediaannya diwawancarai.
6.    Jelaskan kepada informan:
a.    Dalam rangka apa wawancara tersebut dilakukan.
b.    Tujuan wawancara (informasi apa saja yang ingin diperoleh dari informan).
c.    Kejujuran informan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara.
d.    Komitmen pewawancara untuk merahasiakan identitas informan atas informasi tertentu, jika informan menghendakinya.
e.    Kebutuhan pewawancara untuk merekam/mencatat seluruh proses tanya-jawab wawancara (maka mohonlah informan bersedia direkam saat wawancara).
7.    Mulailah wawancara dari pertanyaan-pertanyaan pendahuluan, lalu beralih ke pertanyaan-pertanyaan umum, hingga pertanyaan-pertanyaan khusus.
8.    Sebelum mengakhiri wawancara, periksalah sekali lagi kelengkapan informasi yang sudah diperoleh dari informan. Jika masih ada informasi yang kurang lengkap, tanyakan kepada informan.
9.    Akhiri wawancara dengan mengucapkan terima kasih dan meminta kesediaan informan untuk dihubungi dan diwawancarai lagi di lain kesempatan, jika ternyata masih ada informasi yang dibutuhkan dan belum diperoleh dalam wawancara tersebut.

Analisis
10.   Salinlah rekaman wawancara dalam bentuk transkrip wawancara, atau baca dengan cermat dan lengkapilah catatan wawancara (jika wawancara tidak bisa direkam karena tidak tersedianya alat perekam atau informan tidak bersedia direkam selama wawancara).
11.   Pilihlah informasi-informasi terpenting dalam transkrip dengan cara memberi kode (coding) terhadap transkrip. Misalnya: memberi garis bawah pada kata/kalimat penting tertentu, memberi tanda/simbol pada bagian penting tertentu, atau menuliskan kata-kata kunci di samping paragraf tertentu pada transkrip diskusi.
12.   Mengelompokkan hasil coding dalam kategori-kategori yang sama, dan mencermati keterkaitannya satu sama lain.
13.   Menarik kesimpulan-kesimpulan analisis.

Catatan untuk Fasilitator
1.    Wawancara adalah metode pencarian/pengumpulan informasi dalam pendekatan riset kualitatif. Jadi, tidak ada ketentuan baku dalam menentukan jumlah informan. Jumlah Informan tergantung tujuan penelitian, kuantitas dan kualitas informasi yang dibutuhkan, kapasitas informan, dan varian/keragaman latar belakang informan (untuk membandingkan informasi antar informan agar semakin memperkaya informasi itu sendiri).
2.    Kekuatan informasi hasil wawancara terletak pada tingkat kepercayaan orang lain/masyarakat umum terhadap kebenaran dan kenyataan yang digambarkan dari informasi tersebut.
3.    Jika memungkinkan, lakukan metode-metode pengumpulan informasi yang lain (selain wawancara, misalnya FGD, studi kepustakaan/arsip, penyebaran kuesioner, dsb.) untuk mengumpulkan informasi yang sama dari yang dikumpulkan lewat wawancara. Cara ini biasa disebut dengan triangulasi. Triangulasi dilakukan untuk meningkatkan kekuatan informasi yang dikumpulkan dan kekuatan analisis dan kesimpulan analisisnya.
4.    Untuk menghindarkan informan dari suasana yang kurang/tidak nyaman selama wawancara (misalnya tegang, jenuh, bingung), pewawancara bisa menyiasatinya dengan menggunakan beberapa alat bantu, misalnya:
a.    Makanan dan minuman ringan untuk disantap selama wawancara, untuk menciptakan suasana informal dan mengatasi ketegangan.
b.    Foto, gambar, skema, grafik, tabel yang memperjelas pertanyaan pewawancara yang disajikan kepada informan untuk membantunya memahami pertanyaan, menjawab dengan informasi yang sesuai kebutuhan pewawancara, dan menghindarkannya dari rasa jenuh/bingung.