| Pengantar Umum Pendidikan Politik OMK |
|
|
|
| Written by Administrator |
|
JANGAN KATAKAN AKU INI MASIH MUDA Mengapa disusun Bahan Pendidikan Politik bagi orang muda Katolik (OMK) Indonesia? Alasannya sederhana. Pertama, karena para penyusun merasa tertantang oleh keprihatinan yang sering terungkap di pelbagai kesempatan baik secara lisan maupun tertulis bahwa OMK secara umum dirasa enggan memikirkan dan melibatkan diri dalam urusan kebangsaan dan kemasyarakatan. Padahal, idealnya, karena baptisan yang mereka terima, OMK dipanggil dan diutus untuk melibatkan diri di tengah dunia sebagai pelaku perubahan dan transformasi sosial menuju kondisi yang makin adil, manusiawi dan bermartabat sesuai dengan cita-cita Kerajaan Allah yang memerdekakan. Kedua, tatkala para pendamping dan penggerak OMK mau menanggapi keprihatinan tersebut, maka saat itulah mereka menemukan kurangnya bahan pendidikan politik OMK. Maka bahan ini menjadi salah satu tambahan tawaran untuk menjawab keprihatinan tersebut, sekaligus memperkaya khasanah bahan pendidikan politik bagi para penggerak dan pendamping serta peminat pendampingan OMK pada umumnya. Seperti pada umumnya rakyat Indonesia, OMK Indonesia sedang berada dalam garis sejarah antara kondisi pra-demokrasi menuju tatanan demokrasi yang sejati. Pada masa seperti, diperlukan lebih banyak lagi bahan pendidikan politik, agar OMK menjadi warga negara yang rasional dan bertanggungjawab atas keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Pancasila. Bahan ini bisa dibaca begitu saja. Namun demikian, membaca saja tidak cukup. Ia harus diterapkan. Sebagai materi terapan, isi buku ini bukanlah bahan jadi. Para pendamping dan penggerak OMK masih perlu mengolahnya sendiri secara cerdas dan kreatif menurut konteks dan dinamika setempat. Bahan ini terdiri dari tiga bagian pokok. Bagian pertama berisi narasi dan modul sejumlah metode alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan atau memproses program pendidikan politik OMK. Bagian kedua berisi narasi tentang pemanfaatan riset aksi partisipatoris (RAP) dalam pengelolaan program pendidikan politik OMK dan sejumlah modul penerapannya. Sedangkan bagian ketiga berisi uraian pembangunan database pendidikan politik OMK, khususnya yang berbasis atau memanfaatkan fasilitas website. Sementara itu, perkara teoritis-informatif, mengenai prinsip-prinsip panggilan kerasulan awam Katolik dan pendidikan politik pada umumnya, sebagai penjaga arah bagi keterlibatan OMK dalam masyarakat tidak dibahas secara khusus dalam bahan ini, melainkan menjadi lampiran. Hal ini dilakukan agar para pendamping OMK, khususnya pembaca dan pengguna bahan ini, langsung terfokus pada perangkat pendampingan yang bersifat praktis-aplikatif, seperti yang selama ini lebih dibutuhkan dan (oleh karena itu) mendesak untuk disediakan. Selain itu, kami mengharapkan para pendamping OMK, khususnya pembaca dan pengguna bahan ini, bersedia mencari dan mengumpulkan sendiri hal-hal yang bersifat teoritis-informatif tersebut dari berbagai sumber, misalnya perpustakaan pribadi, toko buku, dan media online (website dan weblog). Seluruh isi di ketiga bagian pokok bahan ini disusun oleh sejumlah relawan Komisi Kepemudaan KWI. Mereka kebanyakan masih muda, memiliki keprihatinan yang sama tentang partisipasi politik OMK, dan bersedia secara suka rela berbagi pemikiran, pengetahuan, refleksi, dan pengalaman melalui bahan ini. Naskah bahan ini disusun berdasarkan diskusi dan refleksi yang panjang, sejak 1 Maret 2008 yang lalu. Bahan ini pun masih mengandung banyak kekurangan. Oleh karena itu, bahan ini sangat terbuka untuk dikritik dan dikembangkan lebih lanjut oleh para pendamping OMK, khususnya pembaca dan penggunanya. Semoga bahan ini membantu para pendamping OMK dalam mendampingi, menggerakkan, dan mendorong OMK untuk semakin menghayati panggilan imannya dalam kehidupan sosial politik melalui program pendidikan politik, seperti refleksi Nabi Yeremia: ”Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: ’Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu haruslah kau sampaikan’” (Yer 1:7). Selamat berproses dalam pendampingan pendidikan politik bersama Orang Muda Katolik Indonesia! Jakarta, 17 Agustus 2008 R.D. Yohanes Dwi Harsanto Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) |






