| Siap Untuk Terlibat |
|
|
|
| Written by ANDRE YURIS |
|
Enggan untuk bicara dan terlibat urusan politk yang konon lekat dengan orang muda katolik. Bagitu kata orang-orang. Tapi mungkin terlalu tergesa-gesa memberikan cap ”enggan” sehingga lupa melihat sebab keengganan. Enggan bicara bagi saya bukan karena tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu, mungkin hanya tidak punya teman bicara, tidak memiliki kesempatan untuk curah gasasan tentang politik dan mungkin lingkungan kita yang belum siap. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan lain adalah kita terlanjur alergi pada politik. Sikap dan prilaku politisi, carut marut praktik politik yang kita saksikan melalui media massa membuat kita tambah enggan dan alergi. Keteladanan yang diharapkan dari aparat penyelenggara negara tidak kunjung muncul yang muncul malah kecurangan, manipulasi, saling menjegal dan menjatuhkan. Siapapun pasti jijik, tidak hanya kita orang muda katolik.
Tentang kemungkinan pertama. Enggan bukan kerena tidak tahu, atau tidak mau tahu. Alasanya adalah karena setiap pribadi memiliki kapasitas yang khas yang tidak dimiliki pribadi yang lain. Setiap peribadi OMK tentu memilki kapasitas khas tentang politik, artinya OMK pada dasarnya tahu politik. Ketahuan kita tentang politik, lantas tidak berkembang atau tumpul lantaran kita tidak punya teman untuk bicara politik. Atau mungkin teman-teman kita pada kabur kalau diajak bicara, tapi pada protes kalau BBM naik, menggerutu kalau kencing saja harus bayar dan mengumpat kalau aktifitasnya di kampus tidak restui rektorium. Ironi bila OMK tidak punya teman bicara politik, karena kita punya Mudika, Rekat, KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) dan masih banyak yang lainya yang berpotensi jadi teman diskusi bahkan jadi komunitas politik yang aktif dan partisipatif.Ataukah lingkungan OMK (contoh : Mudika dan KMK) belum siap kalau OMK cakap politik dan belum siap jadi wadah pengisian dan pengembangan kapasitas. Kemungkinan itu tetap ada, tapi bisa diubah. Eksklusifisme yang melekat pada organ kategorial maupun parokial harus secara perlahan diubah, dengan memberikan stimulus aktifitas dan wacana alternatif. Penggunaan media alternatif yang dekat dengan dunia anak muda seperti film, komik, stiker dan musik bisa jadi pintu masuk yang bisa di coba. Karena hanya organ yang inklusif (terbuka dengan informasi, gagasan, inovasi baru) yang bisa jadi wadah pengembangan kapasitas. Organ parokial maupun kategorial yang inklusif tentu merupakan lahan basah pengembangan wacana alternatif dan berpotensi sebagai aksis gerakan kaum muda katolik untuk ikut serta dalam aktifitas politik. Tentang OMK yang alergi dengan politik, saya melihat ada kaitan dengan kemungkinan pertama. Enggan bukan karena tidak tahu, tidak punya teman dan lingkungan yang belum siap menjadikan kapasitas kita untuk bicara politik melemah dan tumpul. Jadi tidak mengherankan kalau kita masih menganggap politik itu kotor dan menjijikan, karena wacana lain tentang politik jarang muncul dalam dialog, aktivitas dan bahkan sengaja tidak di munculkan. Sehingga kita terjebak pada pemahaman bahwa politik adalah mempertahankan, merebut, dan memperoleh kekuasaan (eksekutif, legislatif maupun jabatan publik lainya) yang kadang memang dilakukan secara tidak etis oleh pelaku politik /politisi. Pada kanyataanya, kekuasaan dan kedudukan politik hanya salah satu dimesi politik yang disebut politik prosedural atau politicing. Dimensi lain dari politik, kalau dirunut dari akar katanya dalam bahasa Yunani, ”politik” berasal dari kata ”polis” yang artinya negara (tepatnya negara kota). Kemudian Platon (+347 SM) dengan bukunya Politea (negara ideal) yang membahas tentang tugas negara. Lalu kemudian Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon. Ada pula yang menyebutkan politik sebagai segala sesuatu tentang kepentingan umum (respublica). Dari pengertian diatas, politik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama dan dilakukan untuk mewujudkan bonum commune (kesejateraan bersama). Inilah dimensi politik yang disebut politik kultural. Kalau Politik dijalankan sesuai esensinya, tidak ada alasan lagi untuk alergi. Yang jelas kita harus alergi dengan praktik kotor manipulasi dan kecurangan yang merusak esensi politik. Pada esensi politik inilah kita sebagai muda katolik dan juga muda Indonesia, terlibat dan berpartisipasi secara aktif. Terlibat dan berpartisipasi aktif mulai dari areal aktifitas dan lingkungan kita masing-masing. Untuk terlibat kita membutuhkan kapasitas-kapasitas berupa pengetahuan dan pemahaman politik, ketatanegaraan, peraturan perundang-undangan, dan ajaran gereja, pengorganisasian komunitas sehingga kita tidak enggan dan canggung untuk berbicara dan memperjuangkan kebaikan bersama. Semboyan 100% katolik dan 100% Indonesia juga mengingatkan kita pada satu hal, yaitu menyadari hakekat kita sebagai warga gereja dan warga negara Indonesia. Hakekat yang entah disadari atau tidak, lambat laun tergerus arus jaman dan kita semakin jauh dan menjauhkan diri dari kehidupan bersama sebagai warga negara. Tidak ada seorang pun yang bisa disalahkan, dan kita tidak boleh larut dalam keprihatinan yang mendalam hingga lupa bangkit dan bergerak. Kita harus bangkit dari tidur panjang dan bergerak untuk terlibat dalam kehidupan bersama sebagai wujud iman kita. Orang Muda Katolik Indonesia sudah semestinya jadi aksis untuk bangkit dan bergerak dan terlibat dalam tata kewhidupan bersama. Mengutip Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Ketua Komisi Kepemudaan KWI), tentang tiga cermin tugas muda katolik Indonesia yaitu: 1) Tugas Ke-Mudaan, untuk tahu dan bertanggung jawab atas panggilan untuk berpihak pada yang miskin, lemah dan tertindas dan memperjuangkan tata sosial yang adil, setara dan terbuka serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. 2). Tugas Ke-Katolikan, agar tahu dan bertanggung jawab penuh atas tugas perutusan yang dipercayakan Allah melalui gereja katolik. Muda katolik penting menyadari pentingnya mencintai, memahami dan menghayati ajaran iman dan sakramen yang diterima agar fungsi garam dan terang ditengah masyarakat menjadi terwujud. 3). Tugas Ke-Indonesiaan agar tahu dan bertanggung jawab akan eksistensi dan kedaulatan bangsa Indonesia. Muda Katolik mau melibatkan diri untuk mewjudkan cita-cita hidup bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga tugas ini menuntun kita untuk memahami pentingnya keterlibatan dalam kehidupan bersama dami mewujudkan tata sosial yang adil, setara, dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai salah satu dimensi hidup. *andreyuris/ kord.TRPP Komkep KS.[e:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
[B: www.andreyuris.wordpress.com]
Set as favorite
Email This
Hits: 196 Comments (0)Write comment |







